wellcome to my blog

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah menganugrahkan kepada kami kesempatan untuk membuat blog ini dengan maksud dan tujuan sebagai sarana berbagi kemanfaatan dalam hidup ini guna memeroleh ridha dan rahmat Allah SWT. Blog ini sengaja kami buat sebagai sarana menulis; artikel, makalah, dan lain-lain.

Rabu, 09 Agustus 2023

ANALISIS ARTIKEL



1.      Judul Artikel                     : ANALISIS ARTIKEL
2.      Bibliografi                         : Nama & E-mail (Penulis): Ahmad Zaini
                                                  Magister Kebijakan Dan Pengembangan Pendidikan
                                            Tanggal: 20-11-2010
                                            nuriq_zain@yahoo.co.id
                                            zain.albaj@gmail.com

3.      Tujuan Penulis                   :
1.     Untuk mengangkat citra, harkat dan martabat guru
2.      Sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap nasib guru.
3.  Supaya Guru diakui sebagai profesi yang sejajar sama tinggi dengan profesi-profesi lainnya, seperti Dokter, Hakim, Jaksa, Akuntan, Desainer interior, Arsitektur, dan profesi lainnya.
4. Meningkatkan tanggungjawab pendidikan Guru sebagai pengajar, pendidik, pelatih, pembimbing, dan manajer pembelajaran.
5.      Memberdayakan dan mendayagunakan profesi Guru secara optimal
6.      Meningkatkan mutu pelayanan dan hasil pendidikan
7.      Mendorong peran serta masyarakat dalam kepedulian terhadap Guru.
4.      Konsep Utama Artikel      :

Pendidikan guru tidak dapat dilihat sebagai suatu pendidikan sarjana biasa. Sebab pendidikan guru amat rumit, karena melibatkan banyak unsur seperti sekolah, guru dan peserta didik tempat calon guru harus melakukan pengalaman lapangan. itulah sebabnya profesi guru berbeda dengan profesi lainnya seperti (Dokter, Hakim, Jaksa, Polisi, dll). Sebagai pekerja profesional guru harus mengikuti berbagai standard dan prosedur kerja yang telah diatur dan ditentukan berdasarkan kaidah-kaidah akademis. Pola pendidikan guru sebagaimana dirumuskan universitas indiana di bloominton berpusat pada prinsip-prinsip, sebagai berikut:
1.      Berpusat pada masyarakat.
2.      Menekankan refleksi kritis.
3.      Menekankan pengembangan profesional, intlektual dan personal.
4.      Mementingkan pengalaman yang bermakna.
5.      Menekankan pada pengetahuan dan pemahaman yang majemuk.
6.      Menekankan pada personalized learning.
5. Permasalahan yang Timbul:
1.      Bagaimana menyikapi rendahnya kualifikasi pendidikan guru dan tenaga kependidikan di negara kita ini?
2.      Bagaimana menyikapi Sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang belum terpadu ini?
3.      Apakah penyebab pendidikan Guru itu masih rapuh?
4.      Adakah komitmen pemerintah untuk meningkatkan pendidikan Guru, setelah amanat UUD 1945 saja tidak diindahkan?
6. Refleksi Diri:        
Pendidikan Guru
A.    Definisi awam
Definisi awam : “Suatu cara untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warga negara yang baik”. “Tujuannya untuk mengembangkan atau mengubah kognisi, afeksi dan konasi seseorang”.
B.     Menurut Kamus dan ensiklopedi
1.      Kamus Besar Bahasa Indonesia : "pendidikan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik;"
2.      Ensiklopedi Wikipedia: Education is a social science that encompasses teaching and learning specific knowledge, beliefs, and skills. The word education is derived from the Latin educare meaning "to raise", "to bring up", "to train", "to rear", via "educatio/nis", bringing up, raising.
C.     Menurut Undang-Undang
1.      UU SISDIKNAS No. 2 tahun 1989: "Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang";
2.      UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat
D.    Menurut bahasa (etimologi)
1.      Bahasa Yunani : berasal dari kata Pedagogi, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak (the art and science of teaching children).
2.      Bahasa Romawi : berasal dari kataeducare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia.
3.      Bangsa Jerman : berasal dari kata Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak.
4.      Bahasa Jawa: berasal dari katapanggu lawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
E.     Menurut para ahli pendidikan
1.      Menurut para ahli, definisi pendidikan adalah "Berbagai upaya dan usaha yang dilakukan orang dewasa untuk mendidik nalar peserta didik dan mengatur moral mereka" (Warta Politeknik Negeri Jakarta, April 2007)
2.      Langefeld: Mendidik adalah membimbing anak dalam mencapai kedewasaan
3.      Heageveld: Mendidik adalah membantu anak dalam mencapai kedewasaan
4.      Bojonegoro: Mendidik adalah memeri tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya sampai tercapai kedewasaan
5.      Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
6.      Rosseau: Mendidik adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tapi dibutuhkan pada masa dewasa.
7.      Darmaningtyas mengatakan tentang difinisi pendidikan yaitu pendidikan sebagai usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang ledih baik.
8.      Paulo Freire ia mengatakan, pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, damana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan.
9.      John Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
10.  H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
11.  Frederick J. Mc Donald, pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat
F.      Definisi menurut ilmu psikologi
Definisi psikologi: “Mencakup segala bentuk aktivitas yang akan memudahkan dalam kehidupan bermasyarakat” dengan hasil: “Mencakup segala perubahan yang terjadi sebagai konsekuensi atau akibat dari partisipasi individu dalam kegiatan belajar.
Sementara “Guru”  Menurut Moh. Uzer Usman (1995: 5) merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus mengusai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.
Menurut Muchlas Samani, dkk (2006:7) Guru adalah salah satu subjek/pelaku yang menyandang gelar profesi. Karena itu guru dalam melaksanakan tugasnya harus memiliki keahlian tertentu. Guru harus memperoleh pendidikan keahlian melalui proses pendidikan di lembaga keguruan yang nantinya dapat melaksanakan tugas sebagai profesi.  Guru tidak hanya dituntut pandai mengajar namun dibutuhkan yang namanya kecakapan mendidik, membimbing dan melatih. Seperti yang dijelaskan dalam artikel:
Hakekat kerja guru adalah mengajar, berinteraksi dengan peserta didik berkaitan dengan suatu materi sehingga materi tersebut dikuasai oleh peserta didik.sebagaimana diungkap Darling-Hammond pada pembukaan tulisan ini, mengajar sebagai kerja guru adalah sederhana, untuk tidak mengatakan mudah. Hanya menyampaikan suatu materi untuk dikuasai oleh pesertadidik.begitu mudahnya, kayak sang dirigent suatu konser musik, yang hanya menggerak-gerakan tangan sembari meliuk-liukan tubuh. Benarkah pernyataan ini? Jelas salah satu kerja dirigent tidak semudah itu. Demikian pula tugas guru, tidak semudah orang gambarkan. Mengapa? Tugas guru yang nampaknya merupakan interaksi antara guru dan pesertadidik mengenai suatu materi, ternyata bersifat penuh dengan ketidakpastian.sebab interaksi tersebut melibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung berbagai variabel, nampak dan tidak nampak yang tidak semua bisa dengan mudah dikendalikan oleh guru. Interaksi terlalu kompleks sehingga proses belajar mengajar mengandung banyak ketidakpastian.
Merujuk pada penjabaran di atas pekerjaan guru adalah profesi yang tidak seperti halnya dokter, wartawan dan profesi lainnya. Hal ini disebabkan oleh kompleks dan rumitnya pendidikan guru yang melibatkan banyak pihak seperti sekolah, kepala sekolah, guru dan peserta didik tempat calon guru harus melakukan program pengalaman lapangan. Tugas guru merupakan pekerjaan yang cukup berat dan mulia, karena selain memperoleh amanah dan limpahan tugas dari masyarakat dan orang tua murid, guru juga harus memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan dan kebudayaan, keterampilan dituntut memiliki kompetensi bidang keilmuan dan kompetensi bidang keguruan.
Tentu saja, pekerjaan guru tidak diragukan untuk dapat dikatakan sebagai profesi pendidikan dan pengajaran. Namun, hingga kini “pekerjaan untuk melakukan pendidikan dan pengajaran” ini masih sering dianggap dapat dilakukan oleh siapa saja. Inilah tantangan bagi profesi guru. pendidikan guru harus didukung oleh kompetensi standar yang harus dikuasai oleh para guru profesional. Kompetensi tersebut adalah pemilikan kemampuan atau keahlian yang bersifat khusus, tingkat pendidikan minimal. Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaannya baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, lembaga dan organisasi profesi.
Dalam perkembangannya, disadari bahwa pendidikan guru belum pada posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan guru ini penting dilakukan guna menjawab berbagai tantangan dalam profesi keguruan dan menjaga citra guru serta untuk menepis anggapan miring dari masyarakat yang mengatakan bahwa lembaga pendidikan guru berada pada urutan kedua setelah lembaga non-kependidikan. Sebagaimana dinyatakan dalam artikel.
Di tanah air kita, lembaga pendidikan guru sebagai perguruan tinggi dianggap sebagai perguruan tinggi kelas dua. Peserta didik yang cerdas yang pada umumnya berada di “SMA favorit” hampir tidak masuk kependidikan guru. Penguasaan materi bidang studi para sarjana pendidikan dinilai lemah, tidak sebagus penguasaan bidang studi sarjana umum. lebih ironis lagi nil ai mereka kalah termasuk pada waktu praktik mengajar.
Pendidikan guru penuh dengan tantangan dan sekaligus peluang. Tantangan dan peluang tersebut antara lain: berubahnya peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesi guru. Salah satu tantangan bagi profesi guru ialah banyaknya guru mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau keilmuannya adalah salah satu bukti nyata tidak terstandarnya kualitas pendidik. Seperti yang dinyatakan dalam artikel sebagai berikut:
 ...... profesi kependidikan dan/atau keguruan dapat disebut sebagai profesi yang sedang tumbuh (emerging profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada apa yang telah dicapai oleh profesi-profesi tua (old profession) seperti: kedokteran, hukum, notaris, farmakologi, dan arsitektur. Selama ini, di Indonesia, seorang sarjana pendidikan atau sarjana lainnya yang bertugas di institusi pendidikan dapat mengajar mata pelajaran apa saja, sesuai kebutuhan/kekosongan/kekurangan guru mata pelajaran di sekolah itu, cukup dengan "surat tugas" dari kepala sekolah.
Pernyataan diatas mempertegas pendidikan guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya. Dan oleh karenanya wacana merubah pola sekolah konservatif menjadi sekolah bercorak masa depan menjadi keharusan. Misalnya sekolah harus berani menggunakan cara-cara baru yang selama ini tidak pernah dipergunakan, dan sebaliknya sekolah harus berani meninggalkan cara-cara lama yang selama ini selalu dilaksanakan. Inilah sikap mentalitas yang diperlukan oleh mereka yang berkecimpung didunia pendidikan.
Dilihat dari kacamata keterlaksanaan pembelajaran dapat dikatakan tidak bermasalah, tetapi dari kacamata ketuntasan atau tuntutan kurikulum mungkin saja konsep pegajarannya menjadi bias, ngambang, dan tidak terarah karena boleh jadi materi yang diajarkan pada siswa sebatas apa yang di ketahui guru saja. Kondisi ini yang memacu guru mengembangkan konsep asal mengajar dan mengugurkan tugas, tanpa mau tahu target kurikulum yang telah diprogramkan. Menurut Supriadi (2003), kelemahan guru adalah (1) Masih banyak guru yang bersikap tidak profesional seperti tidak dimilikinya jiwa kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pelajaran, seringnya guru mengulur-ulur waktu belajar-mengajar, atau situasional guru yang merasa bingung dan belum siap untuk mengajar. (2) Kebanyakan guru merasa cukup dengan keilmuan yang telah mereka dapat di bangku kuliah, sehingga program pengajaran yang dikembangan akan selalu begitu dan akan tetap begitu, padahal perkembangan IPTEK setiap waktu selalu berubah dalam hitungan detik, begitu pun dengan tuntutan kompetensi siswa setiap waktu selalu meningkat seiring perkembangan teknologi informasi. Kelemahan ini yang menggiring para guru menjadi gagap terhadap teknologi dan pengetahuan yang up to date. (3) Kebanyakan guru mengajar tanpa program yang jelas dengan alasan mereka merasa hafal di luar kepala terhadap materi yang akan di sampaikan. Anggapan ini yang menjadikan guru mengajar tidak sitematis dan jauh dari metode berfikir analitis yang ujung-ujungnya akan berdampak pada menurunnya minat belajar siswa. Ini dijelaskan dalam artikel:
 Adapun kelemahan-kelemahan lainnya yang terdapat dalam profesi keguruan di Indonesia, antara lain berupa: (1) Masih rendahnya kualifikasi pendidikan guru dan tenaga kependidikan; (2) Sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang belum terpadu; (3) Organisasi profesi yang rapuh; serta (4) Sistem imbalan dan penghargaan yang kurang memadai.
Menurut penulis, penyebab lemahnya profsi guru di Indonesia yaitu:
1.      Masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, hal ini disebabkan penghargaan terhadap guru belum sebanding dengan beberapa profesi lain (seperti profesi dokter, dan lain-lain).
2.      Rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, karena Penghasilan guru yang kurang memadai apabila dibandingkan dengan penghasilan profesi lain dan hal ini berimbas pada profesi guru itu sendiri kurang diminati. Profesi guru tidak lebih dari sebuah pekerjaan ”terpaksa” dilakukan ketika tidak mampu menemukan pekerjaan lain yang ”lebih baik”. Sebagai contoh saja, seorang guru akan segera berpindah pada pekerjaan lain, ketika mendapatkan kesempatan bekerja ditempat lain yang menjanjikan dan memberikan fasilitas serta penghasilan yang lebih memadai. Menurut mereka, hanya beberapa - ”segelintir” – guru yang menyenangi dan menekuni profesinya karena memiliki sumber pengahsilan lain.
3.      Pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan pencetak tenaga keguruan dan kependidikan,
4.      Masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada calon guru
5.      Masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya.
Dalam konteks Indonesia dewasa ini, nampak kecenderungan makin menguatnya upaya pemerintah untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan guru, hal ini terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen(UUGD) yang disebutkan dalam artikel
Akhirnya, setelah 60 tahun Indonesia merdeka, bangsa kita mempunyai sebuah undang-undang (UU) mengenai profesi guru. Hal ini ditandai dengan disahkannya UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 30 Desember 2005, serta diundangkan dalam Lembaga Negara RI tahun 2005 nomor 157.
UUGD diatas cukup menjanjikan kualitas pendidikan Indonesia dengan guru-guru yang profesional, memiliki kompetensi dan disertifikasi sebagai jabatan profesi guru. Tetapi, konsep dan Undang-Undang, berbicara pada tataran ideal, tetapi realitas pendidikan yang dihadapi saat ini berbicara lain. Hal ini sesuai dengan yang digambarkan dalam artikel berita dari dunia pendidikan yang menggetarkan para pengguna pendidikan:
Berdasarkan data Depdiknas (2007) di atas, dari 2.245.952 guru di Indonesia lebih dari separuhnya (59%) tidak layak mengajar atau tidak memiliki kualifikasi akademik, yaitu tingkat pendidikan minimal seorang guru harus berijazah sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) yang sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah 1.330.566 orang, terdiri dari 135.344 guru TK, 953.511 guru SD, 5.507 guru SLB, 171.558 guru SMP, 31.645 guru SMA, dan 33.001 guru SMK.
Apabila data ini valid, maka cukup mencengangkan kita yang bergelut dalam dunia pendidikan selama ini. Padahal pekerjaan mengajar telah ditekuni orang sejak lama dan perkembangan profesi guru sejalan dengan perkembangan masyarakat. Tetapi, data dan kondisi di atas, cukup memprihatinkan kita. Mungkin kita bertanya, apa yang diperbuat selama ini dalam dunia pendidikan kita? Padahal, setiap ganti mentri, mesti ganti kebijakan dalam dunia pendidikan, tetapi kondisi dan realitas tenaga guru yang disebutkan di atas adalah merupakan suatu berita yang mencengangkan dan bencana untuk dunia pendidikan. Mungkinkah guru dapat menjadi profesional? Harus disadari kondisi guru seperti pada temuan di atas harus menjadi keprihatinan bersama.
Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, salah satunya yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah kebijakan yang berkaitan dengan sertifikasi guru. Para guru, mengatakan apabila program sertifikasi ini dapat secara langsung menjawab persoalan-persoalan di atas, akan membuat profesi guru menjadi baik, pekerjaan guru akan menjadi sebuah profesi yang menarik dan dikejar orang. Tetapi, tampaknya program tersebut tidak akan sanggup menjawab beberapa persoalan mendasar dari profesi guru itu sendiri. Maka kritik yang disampaikan mereka, apabila yang dipercaya sebagai perancang program ini adalah sejumlah universitas eks IKIP, ini menjadi pertanyaan, mengapa mereka yang tidak berhasil mengangkat martabat guru dan bahkan merubah IKIP menjadi universitas, kenapa dijadikan dan dilibatkan dalam penyusun program nasional yang sedemikian penting.
Selanjutnya, sebagai tenaga profesional, guru membutuhkan pengakuan berupa bukti formal yang berbentuk sertifikat pendidik. Sertifikasi guru ini dikeluarkan oleh PT yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. PT yang dimaksud adalah LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) baik eks IKIP, STKIP maupun FKIP di universitas-universitas. (RRI-Online, 25/01/2006, 19:04 WIB).

Esensi pengingkatan pendidikan guru dan dosen ini dimaksudkan untuk mencapai berbagai standard yang antara lain:
1)      Menciptakan kecakapan, keahlian, dan kefasihan.
2)      Menciptakan kesadaran dan pemahaman.
3)      Menciptakan kinerja yang berkualitas.
4)      Memberikan kekuatan moral yang kokoh.
5)      Memberikan modal sosial yang lentur dan fleksibel.
Kerja guru bisa disebut suatu profesi manakala kerja guru benar-benar menunjukkan tindakan profesional, yang memerlukan dukungan interaksi antara teori pendidikan dan praktik. Untuk ini diperlukan batang tubuh ilmu pendidikan yang terus dikembangkan oleh penelitian dan aplikasi serta refleksi di ruang-ruang kelas. Tanpa itu, pengajaran akan kering dan kehilangan kekuatan, sebagaimana dalam diri konduktor musik.
Lembaga pendidikan guru perlu mengembangkan standard bagi program penyiapan guru yang mencakup, antara lain: a) pengetahuan dan ketrampilan untuk memahami peserta didik dan bagaimana mereka belajar, b) memahami dan menguasai materi dan metodologi pengajaran guna mengembangkan proses pembelajaran yang bermakna, c) memahami dan menguasai bagaimana cara mengevaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan lulusan, d) memiliki kemampuan refleksi, dan e) melaksanakan kolaborasi, khususnya dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.

Dengan demikian usaha peningkatan pendidikan guru ini menjadi tanggung jawab pemerintah bersama para pengambil kebijakan sebagaimana telah dicontohkan dibeberapa negara bahkan yang pernah belajar pada Indonesia. Di Amerika Serikat hal ini sudah lama berlaku sehingga tidak heran kalau pendidikan di Amerika Serikat menjadi pola anutan.
Menurut  penulis, guru haruslah berusaha untuk meningkatan kualitas dan memenuhi kompetensinya. Guru harus selalu berusaha untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: memahami tuntutan standar profesi, jika ingin meningkatkan profesionalismenya, mencapai kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan, membina jaringan kerja atau networking, yang akan memperoleh akses terhadap inovasi-inovasi di bidang profesinya, mengembangkan etos kerja atau budaya kerja yang mengutamakan pelayanan bermutu tinggi kepada pengguna pendidikan. Guru, memberikan pelayanan prima kepada pengguna pendidikan: siswa, orangtua dan sekolah sebagai stakeholder. Tugas guru, termasuk pelayanan publik vang didanai, diadakan, dikontrol oleh dan untuk kepentingan publik. Maka, guru harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada publik, guru harus berusaha mengadopsi inovasi atau mengembangkan kreativitas dalam pemanfaatan teknologi komunikasi agar tidak ketinggalan atau “gaptek” (gagap teknologi) dalam kemampuannya mengelola pembelajaran (baca:Purwanto, http://www.pustekkom...,). Maka, sikap yang harus senantiasa dipupuk dan dimiliki guru adalah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kesedian untuk mengenal profesinya, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru dan bukan pekerjaan sambilan.
Guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
 Sementara itu, para guru hendaknya dapat diposisikan sebagai tenaga profesional (sebagaimana pasal 39 ayat 1 UU No. 20/2003 dan pasal 1 angka 1 UU No. 14/2005). Dalam pengertian ini, maka adanya Ujian Nasional (UN) pada hakikatnya menggeser peran guru untuk melakukan evaluasi atau penilaian hasil pembelajaran peserta didik. Padahal peran evaluasi tidak dapat dipisahkan (inherent) dari dua peran guru lainnya, yakni: merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.


PENUTUP
Dalam konteks Indonesia dewasa ini, nampak kecenderungan makin menguatnya upaya pemerintah untuk terus mengembangkan profesi guru sebagai profesi yang kuat dan dihormati sejajar dengan profesi lainnya yang sudah lama berkembang, hal ini terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini jelas menggambarkan bagaimana pemerintah mencoba mengembangkan profesi pendidik melalui perlindungan hukum dengan standard tertentu yang diharapkan dapat mendorong pengembangan profesi guru.
Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan profesi guru, yaitu :
1.      Pendidikan guru harus didukung oleh kompetensi yang standar yang harus dikuasai oleh para guru profesional. Kompetensi tersebut adalah pemilikan kemampuan atau keahlian yang bersifat khusus, seperti tingkat pendidikan minimal, dan sertifikasi. Sertifikasi guru, merupakan kebijakan yang sangat strategis, karena langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru untuk meningkat kualitas guru, memiliki kompetensi, mengangkat harkat dan wibawa guru sehingga guru lebih dihargai dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.  Sikap yang harus dibangun para guru dalam kompetensi dan sertifikasi ini adalah profesionalisme, kualitas, mengenal dan menekuni profesi keguruan, meningkatkan kualitas keguruan, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru, kerasan dan bangga atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang memiliki kualifikasi dan kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi keguruan.
2.    Pendidikan guru perlu didukung oleh suatu kode etik guru yang berfungsi  sebagai norma hukum dan sekaligus sebagai norma kemasyarakatan. Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaannya baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, lembaga dan organisasi profesi. Selain itu, guru juga harus mengembangkan rasa kesejawatan yang tinggi dengan sesama guru. Disinilah peran Perguruan Tinggi Pendidikan dan organisasi profesi guru (seperti PGRI) sangat penting. Kerjasama antar keduanya menjadi sangat diperlukan. Lembaga Pendidikan dalam memproduk guru yang profesional tidak dapat berjalan sendiri, kecuali selain harus bekerjasama dengan lembaga profesi guru, dan sebaliknya. Untuk itu, maka pengembangan profesionalisme guru juga harus mempersyaratkan hidup dan berperanannya organisasi profesi guru tenaga kependidikan lainnya yang mampu menjadi tempat terjadinya penyebarluasan dan pertukaran ide diantara anggota dalam menjaga kode etik dan pengembangan profesi masing-masing. Orientasi mutu, profesionalisme dan menjunjung tinggi profesi harus mampu menjadi etos kerja guru. Untuk itu maka, kode etik profesi guru harus pula ditegakkan oleh anggotanya dan organisasi profesi guru harus pula dikembangkan kearah memiliki otoritas yang tinggi agar dapat mengawal profesi guru tersebut.
3.      Para guru harus menjadikan orientasi mutu dan profesionalisme guru sebagai etos kerja mereka dan menjadikannya sebagai landasan orientasi berperilaku dalam tugas-tugas profesinya. Karenanya, maka kode etik profesi guru harus dijunjung tinggi. Dalam perkembangannya, disadari bahwa profesi guru belum dalam posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Pada saat diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan yang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, dipahami bahwa banyak tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi untuk dapat diselesaikan oleh para guru dan lembaga penyelenggara pendidikan. Tantangan dan peluang tersebut antara lain: berubahnya peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesionalisme guru. Para guru mempunyai tantangan untuk dapat beradaptasi dengan sebaik-baiknya dalam situasi transisi, agar dapat memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positifnya. Menyikapi hal-hal demikian, tidak lain maka para guru haruslah dapat mengembangkan suatu perilaku adaptif agar berhasil mengemban profesinya di era otonomi daerah dan era global ini.
4.  Pendidikan guru bukan sesuatu yang mudah, hal ini disebabkan banyak faktor yang dapat mempengaruhinya, untuk itu pencermatan lingkungan dimana pengembangan itu dilakukan menjadi penting, terutama bila faktor tersebut dapat menghalangi upaya pengembangan tenaga pendidik. Dalam hubungan ini, faktor birokrasi, khususnya birokrasi pendidikan sering kurang/tidak mendukung bagi terciptanya suasana yang kondusif untuk pengembangan profesi tenaga pendidik. Kelembagaan profesi guru (seperti PGRI) sangat diperlukan untuk menghindari terkotak-kotaknya guru karena alasan struktur birokratisasi atau kepentingan politik tertentu.
Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa meskipun perlindungan hukum itu penting, namun pengembangan diri sendiri juga penting dan strategis dalam upaya pengembangan profesi guru, ini didasarkan beberapa alasan yaitu; (1) Perlindungan hukum penting dalam menciptakan kondisi dasar bagi penguatan profesi guru, namun tidak dapat menjadikan substansi pengembangan profesi guru otomatis terjadi,(2) Perlindungan hukum dapat memberikan kekuasan legal (legal power) pada pendidik, namun akan sulit menumbuhkan profesi pendidik dalam pelaksanaan peran dan tugasnya di bidang pendidikan, (3) Pengembangan diri sendiri dapat menjadikan profesi pendidik sadar dan terus memberdayakan diri sendiri dalam meningkatkan kemampuan berkaitan dengan peran dan tugasnya di bidang pendidikan, (4) Pengembangan diri sendiri dapat memberikan kekuasaan keahlian (expert power) pada pendidik, sehingga dapat menjadikan pendidik sebagai profesi yang kuat dan penting dalam proses pendidikan bangsa. Oleh karena itu, pendidik mesti terus berupaya untuk mengembangkan diri sendiri agar dalam menjalankan peran dan tugasnya dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi kepentingan pembangunan bangsa yang maju dan bermoral sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mudah-mudahan peningkatan profesi guru di era otonomi daerah  dan era global ini segera akan tercapai.





SUMBER BACAAN

Gilley, Jerry W. dan Steven A. Eggland. 1989. Principles of Human Resourches
Development. New York: Addison Wesley Pub. Company. Inc.
Moh Uzer Usman. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Supriadi, Dedi. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa
Supriadi, Dedi.  2003. Guru Di Indonesia, Pendidikan, Pelatihan dan Perjuangan Sejak Zaman Kolonial Hingga Era Reformasi. Jakata: Direktorat Tenaga Kependidikan.
Sulistyo&Basuki. 2001. Makalah untuk Rapat Kerja PB IPI, Jakarta, 5. s.d. 7 (Online), (http:www. Kode etik dan organisasi profesi. co. id/Pepak - Pustaka - Jurusan Ilmu Perpustakaan.mht, Diakses tanggal 28 Juni 2008)
Samani, Muchlas, dkk. 2006. Mengenai Sertifikasi Guru di Indonesia. Surabaya: SIC.
Suparlan. 1994. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Hikayat: Yogyakarta
Samana. A. 1994. Profesionalisme Keguruan.Yogyakarta: Kanisius(Anggota.IKAPI)

Minggu, 02 Agustus 2020

TAJWID PRAKTIS AL YUSRA

SIFAT SIFAT HURUF

 

1.      Definisi Sifat

Menurut bahasa, sifat (صفة) adalah makna yang melekat pada sesuatu baik secara hissi (indrawi) seperti putih dan biru, maupun secara maknawi seperti ilmu, hidup, senang, sabar, marah dan seterusnya. Sedang menurut istilah Sifat (صفة) adalah: (اَلْحَلَةُ الَّتِي تُعْرَضُ لِلْحَرْفِ عِنْدَ النُّطْقِ) keadaan tertentu yang datang pada huruf tatkala mengucapkannya.

2.      Faedah mengenal sifat-sifat huruf

a.       Untuk mengetahui perbedaan masing-masing huruf dilihat dari persamaan dan perbedaan makhraj maupun sifat yang melekat pada huruf tersebut.

b.      Mengetahui mana huruf yang kuat dan huruf yang lemah, juga mengetahui mana huruf yang dapat diidgamkan pada huruf yang lain dan yang tidak boleh.

c.       Memperbaiki pengucapan huruf yang berbeda dalam makhraj maupun sifatnya.

3.      Pembagian sifat

Secara umum sifat dibagi menjadi dua jenis yaitu; pertama, sifat dzatiyah (اَلصفة الذاتية) atau sifat asli yang selalu melekat pada huruf dalam keadaan apapun seperti, Jahr, Hams, Syiddah, Ithbaq, Istifal, Idzlaq, dan qalqalah. dan kedua, sifat ‘aradhiyah (الصفة العرضية) atau sifat bukan asli kadang-kadang melekat dan kadang-kadang tidak seperti, Tafhkim, Tarqiq, Idhar, Iddgham, Iqlab, Ikhfa, Mad, Qars, Tahrik, Sukun, dan Saktah.

4.      Pembagian sifat dzatiyah terbagi menjadi dua, yaitu:

1.      Sifat dzatiyah (صفة الذاتية) yang memiliki lawan seperti:

الهمس

X

الجهر

الرخاوة

X

الشدة

الاستفال

X

الاستعلاء

الانفتاح

X

الاتباق

الاصمات

X

الاذلاق

 

2.       Sifat dzatiyah (صفة الذاتية) yang tidak memiliki lawan seperti: Tawassuth (التوسط), Shafir (صفير), Qalqalah (قلقلة), Lin (لين), Inhiraf (انحراف) Takrir (تكرير) Tafasysyi (تفشّي) Istithalah (استطالة), dan Ghunnah (غنة)


 

Penjelasan.

Sifat Dzatiyah Yang Memiliki Lawan

1.      Sifat Hams

Hams (همس) menurut bahasa ialah الخفاء (tersembunyi). Sedangkan menurut istilah adalah:

الخَفَاءُ فِي السَّمْعِ نَتِيْجَةَ اِنْفِتَاحِ الوَتَرَيْنِ الصَّوْتَيْنِ عَدَمِ اهْتِزَازِهِمَا وَجَرَيَانٍ كَثِيْرٍ لِهَوَاءٍ النَفْسِ

“Samarnya suara pada pendengaran akibat terbukanya dua pita suara, tidak adanya getaran pada keduanya serta banyaknya napas yang mengalir.”

Catatan: keberadaan hams ini baik tatkala huruf berharkat hidup maupun bersukun, hanya saja dalam keadaan sukun akan lebih tampak (jelas).

2.      Sifat Jahr (الجهر)

Menurut bahasa Jahr (الجهر) adalah jelas. Sedangkan menurut istilah adalah:

اَلوُضُوْحُ فِي السَّمْعِ نَتِيْجَةَ تَضَامِّ الوَتَرَيْنِ الصَّوْتَيْنِ وَاهْتِزَازِهِمَا وَانْحِبَاسٍ كَثِيْرٍ لِهَوَاءِ النَّفْسِ

“Kejelasan suara pada pendengaran akibat menutupnya dua pita suara, dan adanya getaran pada keduanya serta banyaknya udara yang tertahan.”

3.      Sifat Syiddah (الشدة)

Menurut bahasa Syiddah (الشدة) adalah القوة (kuat). Sedangkan menurut istilah adalah:

اِنْحِبَاسُ جَرَيَانِ الصَّوْتِ نَتِيْجَةَ غَلَقِ المَخْرَجِ

“Tertahannya aliran suara akibat dari tertutupnya makhraj.”

4.      Sifat Rakhawah (الرخاوة)

Menurut bahasa, rakhawah  (الرخاوة) adalah لين (lunak). Sedangkan menurut istilah adalah:

جَرَيَانُ الصَّوْتِ عِنْدَ مُرُوْرِهِ فِي المَخْرَجِ

“Mengalirnya suara ketika melewati makhraj.”

5.      Sifat Isti’la (الاستعلاء)

Sifat Isti’la menurut bahasa (لغة) adalah اَلْعُلُوُّ وَ الاِرْتِفَاعُ (tinggi dan terangkat). Adapun menurut istilah adalah:

تَصَعُّدِ الصَّوْتِ اِلَى الْحَنَكِ اَلْأَعْلَى عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُسْتَعْلَى

“Naiknya suara ke langit-langit atas ketika mengucapkan huruf-huruf isti’la.”


 

6.      Sifat Istifal (الاستفال)

Menurut bahasa Istifal (الاستفال) adalah الانخفاض (merendah). Adapun menurut istilah adalah:

عَدَمِ تَصَعُّدِ الصَّوْتِ اِلَى الْحَنَكِ اَلْأَعْلَى عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ المُسْتَفِلْ

“Tidak naiknya suara ke langit-langit atas ketika mengucapkan huruf-huruf istifal.”

7.      Sifat Ithbaq (الاطباق)

Menurut bahasa ithbaq (الاطباق) adalah الالصاق  (menempel). Sedangkan menurut istilah adalah:

اِنْحِصَارُ الصَّوْتِ بَيْنَ اللِسَانِ وَالحَنَكِ الْأَعْلَى عِنْدَالنُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُطْبَقِ

“Terkumpulnya suara antara lidah dan langit-langit ketika pengucapan huruf ithbaq.”

8.      Sifat Infitah (الانفتاح)

Menurut bahasa Infitah (الانفتاح) adalah الافتراق (terpisah atau terbuka). Sedangkan menurut istilah adalah:

عَدَمِ اِنْحِصَارِ الصَّوْتِ بَيْنَ اللِسَانِ وَالحَنَكِ الْأَعْلَى عِنْدَالنُّطْقِ بِالْحَرْفِ المُنْفَتِحِ

“Tidak Terkumpulnya suara antara lidah dan langit-langit ketika pengucapan huruf infitah.”

9.      Sifat Idzlaq (الاذلاق)

Sifat idzlaq (الاذلاق) menurut bahasa adalah: حَدَّةُ اللِسَانِ وَ بَلَغْتُهُ (batas lidah dan ujungnya). Sedangkan menurut istilah adalah:

اِعْتِمَادُ الحَرْفِ عِنْدَ النُّطْقِ بِهِ عَلَى ذَلْقِ اللِسَانِ اَوِالشَّفَةِ اَيْ طَرَفَيْهِمَا

“Bersandarnya huruf ketika pengucapan pada ujung lidah atau bibir.”

10.  Sifat Ishmat (الاصمات)

Sifat Ishmat (الاصمات) menurut bahasa adalah الامتناع (tercegah). Sedangkan menurut istilah adalah:

مَنْعُ اِنْفِرَادِ حُرُوْفِ الاِصْمَاتِ مِنْ تَكْوِيْنِ كَلِمَةٍ حُرُوْفُهَا الأَصْلِيَّةِ تَزِيْدُ عَلَى ثَلَاثَةِ اَحْرُوْفٍ دُوْنَ اَنْ يَكُوْنَ مَعَهَا حَرْفٌ عَلَى الأَقَلِّ مِنَ الحُرُوفِ المُذْلَقَةِ وَذَالِكَ لِتُعَادِلَ خِفَةُ المُذْلَقِ ثِقَلِ المُصْمَتِ

“Tercegahnya kesendirian huruf-huruf ishmat dari susunan sebuah kata yang huruf-huruf aslinya lebih dari tiga huruf tanpa ada minimal satu huruf idzlaq padanya, yakni karena ringannya huruf idzlaq untuk mengimbangi beratnya huruf ishmat.”

Sifat dzatiyah (صفة الذاتية) yang tidak memiliki lawan.

1.      Sifat Tawassuth (التوسط)

Sifat Tawassuth (التوسط) adalah sifat pertengahan antara Syiddah dan Rakhawah ada juga yang menyebutnya sifat bainiyah (بينية).


 

2.      Sifat Shafir (صفير)

Menurut bahasa, Shafir (الصفير)  adalah حدة الصوت (ketajaman suara), sedangkan menurut istilah adalah:

حَدَّةٌ فِي صَوْتِ الحَرْفِ تَنْشَأُ عَنْ مُرُوْرِهِ فِي مَجْرَى ضَيْقٌ

“Ketajaman suara dari huruf yang muncul karena melewati tempat yang sempit.”

3.      Sifat Qalqalah (القلقلة)

Menurut bahasa Qalqalah (القلقلة) adalah الاضتراب (bergetar atau goncangan), sedangkan menurut istilah adalah:

اِخْرَاجُ الْحَرْفِ الْمُقَلْقَلِ حَالَةَ سُكُوْنِهِ بِالتِّبَاعَدِ بَيْنَ طَرَفَيْ عَضْوِالنُّطْقِ دُوْنَ أَنْ يُصَاحِبَهُ شَائِبَةُ حَرْكَةٍ مِنَ الْحَرَكَاتِ الثّلَاثِ

“Mengeluarkan huruf yang diqalqalahkan ketika sukun dengan menjauhkan dua sisi anggota (alat) ucap tanpa dipengaruhi salah satu dari harakat yang tiga.”

Catatan:

Qalqalah ada dua yaitu: 1. Qalqalah Kubra (القلقلة الكبرى)  qalqalah besar dan 2. Qalqalah Sughra (القلقلة الصغرى) qalqalah kecil.

4.      Sifat Lin (لين)

Menurut bahasa Lin (اللين) adalah   السهولة(mudah), sedangkan menurut istilah adalah:

صِفَةٌ اُطْلِقَتْ عَلَى الْوَاوِ وَالْيَاءِ اَلسَّاكِنَتَيْنِ اَلْمَفْتُوْحِ مَا قَبْلَهُمَا بِسَبَبِ سُهُوْلَتِهَا فِي الْمَخْرَجِ

“Sifat yang dimutlakkan untuk huruf Wau (الواو) dan Ya (الياء)  yang sukun dan sebelumnya berharkat fatha sebab kemudahannya (tidak berat) pada makhraj.”

5.      Sifat Inhiraf (الانحراف)

Menurut bahasa, Inhiraf (الانحراف) adalah الميل والعدل (condong dan menyimpang), sedangkan menurut istilah adalah:

مَيْلُ صَوْتِ الْحَرْفِ لِعَدَمِ كَمَالِ جَرَيَانِهِ بِسَبَبِ اِغْتِرَاضِ اللِسَانِ طَرِيْقَهُ

“Menyimpangnya suara huruf karena mengalirnya tidak sempurna dikarenakan jalannya terhalangi oleh lidah.”

6.      Sifat Takrir (التكرير)

Menurut bahasa, Takrir (التكرير) adalah lebih dari satu kali, sedangkan menurut istilah adalah:

اِرْتِعَادُ طَرْفِ اللِسَانِ بِالرَّاءِ اِرْتِعَادًا خَفِيًّا نَتِيْجَةَ ضَيْقِ مَخْرَجِهَا

“Bergetarnya ujung lidah ketika mengucapkan huruf ra dengan getaran yang lembut akibat sempitnya makhraj.”


 

7.      Sifat Tafasysyi (التفشي)

Menurut bahasa, Tafasysyi (التفشي) bermakna الاتساع (meluas), sedangkan menurut istilah adalah:

اِنْتِشَارُ صَوْتِ الشِّيْنِ مِنْ مَخْرَجِهِ حَتَّى يَصْطَدِمُ بِالصَّفْحَةِ الجَاخِلِيَّةِ لِلْاَسْنَانِ الْعُلْيَا وَ السُّفْلَى

“Tersebarnya suara syin dari makhrajnya sehingga menabrak dinding dalam gigi-gigi atas dan bawah.”

8.      Sifat Istithalah (الاستطالة)  

Menurut bahasa, Istithalah (الاستطالة) adalah الامتداد (memanjang). Adapun menurut istilah adalah:

اندفاع اللسان قليلا الى الأمام بعد اصطدامه بمخرج الضاد حتى يلامس رأس اللسان اصول الثنيتين العلييين وذلك تحت تأثير الهواء المضغوط خلف اللسان

“Terdorongnya lidah sedikit ke depan setelah bertabrakan dengan makhraj dhad sehingga ujung lidah menyentuh pangkal gigi seri atas, dan hal tersebut di bawah pengaruh udara yang tertekan di belakang lidah.”

9.      Sifat Ghunnah (الغنة)

Ghunnah (الغنة) adalah:  صَوْتٌ يَخْرُجُ مِنَ الْخَيْشُوْمِ وَتَكُوْنُ تَابِعَةَ للنون و الميم “suara yang keluar dari rongga hidung, yang menyertai huruf nun (ن) dan mim (م).”

 


 

ء (الهمزة)

 

1.                    

 

Makhraj huruf hamzah (ء)  yaitu :(اَقْصَى الْحَلْقِ) Tenggorokan bawah.

 

2.                    

Sifat huruf hamzah (ء) yaitu:

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلشِّدَّةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

أَ إِ أُ بَأْ اُوْأَنْ أَنِأَئنَ مِنَ الْمُؤْنِ مَئِيْئًا أَنِئًا

 

 

اُنْزِلَ

اِلَى اللهِ

اَللهُ

 

اُلَئِكَ

اِلَى بَارِئِكُمْ

اَلسَّمَاءِ

 

دِفْئٌ

شَيْءٍ

مَاءً

 

 

 

3.                    

Hamzah (ء) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

عَذَابٌ اَلِيْمٌ

مِنْ اِلَهٍ

وَيَنْئَوْنَ عَنْهُ

1

 

 

كِتَابٌ اَنْزَلْنَهُ

مَنْ اَمَنَ

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

< 

 

 

 

 

4.                    

Hamzah (ء) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

 

 

 

Contoh:

 

اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ       اِذَا رَجَعْتُمْ اِلَيْهِمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 

 ه (الهاء)

 

1.                    

Makhraj huruf ha (ه)  yaitu : (اَقْصَى الْحَلْقِ) Tenggorokan bawah.

 

2.                    

Sifat huruf ha (ه) yaitu:

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

هَ هِ هُ بَهْ هُوْهَنْ هَنِهَهْنَ مِنَ الْمُهْنِ مَهِيْهًا هَنِهًا

 

 

اَهْتَدَى

اَهْوَااَهُمْ

وُجُوْهُهُمْ

 

عَهْدًا

فِيْهِ هُدًى

وَيُلْهِهِمْ

 

يَسْتَهْزِئُ

طَحَاهَا

بَنَهَا

 

 

 

3.                    

Ha (ه) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

جُرُفٍ هَارٍ

مَنْ هَاجَرَ

وَيَنْهَوْنَ عَنْهُ

1

 

 

قَوْمٍ هَادٍ

فَمَالَهُ مِنْ هَادٍ

مِنْهَا

2

 

 

Dalilnya:

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

 

 

 

 

 

4.                    

Ha (ه) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

اَمْ هُمُ الخَالِقُوْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 

 ح (اَلْحَاءُ)

 

1.       

Makhraj huruf ha (ح)  yaitu :(وَسَطُ الْحَلْقِ) Tenggorokan tengah.

 

2.                    

Sifat huruf ha (ح) yaitu:

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

حَ حِ حُ بَحْ  حُوْحَنْ حَنِحَحْنَ مِنَ الْمُحْنِ مَحِيْحًا حَنِحًا

 

 

اَلْمَسِيْحُ

حِيْنَئِذٍ

حَمُوْلَةً

 

لآبْرَحُ حَتَّى

فَصْفَحْ عَنْهُمْ

فَسَبِّحْهُ

 

مِصْبَاحٌ

صَالِحٍ

شَرَاحًا

 

 

 

3.                    

Ha (ح) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

يَنْحِتُوْنَ

1

 

 

نَارٌ حَامِيَّةٌ

مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ

اِنْحِبَاسٌ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

 

 

 

 

 

4.                    

Ha (ح) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

اَمْ حَسِبْتُمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 

 ع (العين)

 

1.       

Makhraj huruf ‘Ain (ع)  yaitu :(وَسَطُ الْحَلْقِ) Tenggorokan tengah.

 

2.                    

Sifat huruf ‘Ain (ع) yaitu:

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلتَّوَسُّطْ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Tawasutu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

عَ عِ عُ بَعْ عُوْعَنْ عَنِعَعْنَ مِنَ المُعْنِ مَعِيْعًا عَنِعًا

 

 

اَطِيْعُوْا

عِمَادٌ

عَالِمٌ

 

وَاسْمَعْ

مُعْتَدِيْنَ

تَعْتَدُوْا

 

سَمِيْعٌ

سَمِيْعٌ

سَمِيْعًا

 

 

 

3.                    

‘Ain (ع) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

عَرْشٌ عَظِيْمٌ

مِنْ عَذَابٍ

وَالْاَنْعَامِ

1

 

 

وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا

اَنْعَمْتَ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

 

 

 

 

 

4.                    

‘Ain (ع) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

 وَلَااَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَآاَعْبُدُ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 

 خ (الخاء)

 

1.       

Makhraj huruf Kha (خ)  yaitu :(ادنى الحلق) Tenggorokan atas.

 

2.                    

Sifat huruf Kha (خ) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِعْلَاءُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Isti’la’u

Al Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

خَ خِ خُ بَخْ خُوْخَنْ خَنِخَخْنَ مِنَ الْمُخْنِ مَخِيْخًا خَنِخًا

 

 

خُسْرَانٌ

خِصَانٌ

خَلَقَ

 

مُخْتَارٌ

وَلَاتَخْشَى

اِخْتَلَطَ

 

خَشِعِيْنَ

وَاخْتَارَمُوْسَى

خَائِفِيْنَ

 

 

 

3.                    

Kha (خ) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

مِنْ خَيْرٍ

يَنْخِتُوْنَ

1

 

 

لَطِيْفًا خَبِيْرًا

مَنْ خَشِيَ

 

2

 

 

Dalilnya:

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

 

 

 

 

 

4.                    

Kha (خ) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 

 غ (الغين)

 

1.       

Makhraj huruf Ghain (غ)  yaitu :(ادنى الحلق) Tenggorokan atas.

 

2.                    

Sifat huruf Ghain (غ) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِعْلَاءُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Isti’la’u

Al Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

غَ غِ غُ بَغْ غُوْغَنْ غَنِغَغْنَ مِنَ الْمُغْنِ مَغِيْغًا غَنِغًا

 

 

غَلبَتْ

غَفُوْرٌ

غَيْرُ

 

اِسْتَغْنَى

وَاَغْطَشَ

اِغْتَسَلَ

 

فِيْ غَيَبَتِ

اَلغَيْبُ

يَتَغَامَزُوْنَ

 

 

 

3.                    

Ghain (غ) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) maka, dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ حَلْقِي)

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

عَفُوًّا غَفُوْرًا

مِنْ غِسْلِيْنَ

فَسَيُنْغِضُوْنَ

1

 

 

 

 

 

2

 

 

Dalilnya:

 

 

لِلْحَقِّ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَالْتَعْرِفِ

#

فَالْأَوَّلُ الإِضْهَارُ قَبْلَ الْأَحْرُفِ

 

 

مُهْمَلَتَيْنِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءٌ

#

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءٌ

 

 

 

 

 

 

4.                    

Ghain (غ) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

فَإِنْهُمْ غَيْرَ مَلُوْمِيْنَ               اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِنِيْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 



ق (القاف)

 

1.       

Makhraj huruf Qaf (ق)  yaitu :(اقصى اللسان) pangkal lidah  yang menempel pada bagian daging dari langit-langit (bagian yang lunak)`

 

2.                    

Sifat huruf Qaf (ق) yaitu:

 

 

القلقلة

الاصمات

الانفتاح

الاستعلاء

الشدة

الجهر

 

 

Al

Qalqalah

Al

Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Isti’la’u

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

قَ قِ قُ بَقْ قُوْقَنْ قَنِقَقْنَ من المُقْنِ مَقِيْقًا قَنِقًا

 

 

يَقُوْلُ

رَقِيْبٌ

قَوَمَ

 

لَقُضِيَ

يُقِيْمُوْنَ

مَقَالِيْدُ

 

لاَتَقْنَطُوْا

أَقْسَمُوْا

تَقْتُلُوْنَ

 

 

 

3.                    

Qaf (ق) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء ادنى) atau dibaca dengung disertai sedikit samar.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

كُتُبٌ قَيِّمَةٌ

فَإِنْ قَاتَلَوْكَمْ

يَنْقَلِبُوْنَ

1

 

 

اَمَّةٌ قَدْ خَلَتْ

مِنْ قَبْلِهِمْ

يَنْقُصُ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

ثَلَاثَةٍ أَدْنَى وَاَوْسَطٍ عُلَى

#

وَاَخْفِ بِاعْتِبَارِ غُنَّةٍ عَلَى

 

 

 

 

 

 

4.                    

Qaf (ق) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

اَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً                     وَاِذَ قِيْلَ لَهُمْ قَالُوْا

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 



ك (الكاف)

 

1.       

Makhraj huruf Kaf (ك)  yaitu :(اقصى اللسان) pangkal lidah menempel pada bagian daging dan tulang (bagian yang keras) dari langit-langit secara bersamaan berada di bawah makhraj qaf sedikit.

 

2.                    

Sifat huruf Kaf (ك) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلشِّدَّةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

كَ كِ كُ بَكْ كُوْكَنْ كَنِكَكْنَ من المُكْنِ مَكِيْكًا كَنِكًا

 

 

كَلَمَ

كَتَبَ

كَرَمَ

 

مَالِكِ

حَكِيْمٍ

كِتَابٍ

 

يَمْكُرُ

كَنْتَ

كُشِطَتْ

 

 

 

3.                    

Kaf (ك) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء ادنى) atau dibaca dengung disertai sedikit samar.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

كِرَامًا كَاتِبِيْنَ

فَإِنْ كَانَ

يَنْكُثُوْنَ

1

 

 

رَسُوْلٍ كَرٍيْمٍ

إِنْ كُنْتُمْ

مُنْكَرٌ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

ثَلَاثَةٍ أَدْنَى وَاَوْسَطٍ عُلَى

#

وَاَخْفِ بِاِعْتِبَارٍغُنَّةٍ عَلَى

 

 

 

 

 

 

4.                    

Kaf (ك) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

بِأَنَّهُمْ كَانَتْ                       اُمْكُثُوْا اِنِّي ءَا نَسْتُ نَارًا

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


ج (الجيم)

 

1.       

Makhraj huruf Jim (ج)  yaitu :(وَسَطُ الْلِسَانِ) tengah lidah menempel pada langit-langit, sehingga makhrajnya betul-betul tertutup dengan sempurna.

 

2.                    

Sifat huruf Jim (ج) yaitu:

 

 

القلقلة

الاصمات

الانفتاح

الاستفال

الشدة

الجهر

 

 

Al

Qalqalah

Al

Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

جَ جِ جُ بَجْ جُوْجَنْ جَنِجَجْنَ من المُجْنِ مَجِيْجًا جَنِجًا

 

 

مَرَجَ

جَعَلَ

عَجَمَ

 

يُعَجِّلُ

فَتُهَاجِرُوْا

عَجِيْبٌ

 

وَيُخْرِجُ

اَلْبُرُوْجُ

يَجْعَلُ

 

 

 

3.                    

Jim (ج) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) atau dibaca dengung disertai sedikit samar.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

صَالِحًا جَعَلاَ

مَنْ جَاءَ

فَأَنْجَيْنَهُ

1

 

 

فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ

مِنْ جُوْعٍ

أَنْجَيْنَكُمْ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                    

Jim (ج) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

بِأَنَّهُمْ جَعَلُوْا                       وَيَجْعَل لَكُم جَنَّةٍ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 



ش (اَلشِّيْنُ)

 

1.       

Makhraj huruf Syin(ش)  yaitu :(وَسَطُ الْلِسَانِ) tengah lidah yang naik, namun tidak sampai menutup sempurna.

 

2.                   

Sifat huruf Syin (ش) yaitu:

 

 

التَّفَشِّي

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

Al

Tafasysyi

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

شَ شِ شُ بَشْ شُوْشَنْ شَنِشَشْنَ من المُشْنِ مَشِيْشًا شَنِشًا

 

 

شَرَجَ

شَغَلَ

شَرَبَ

 

بَشِيْرًا

شِهَابٌ

هَشِيْمًا

 

شُهُوْمَهُمَا

شُعُوْبٍ

شُهُوْدٍ

 

 

 

3.                   

Syin (ش) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اَوْسَطْ) dibaca dengung disertai samar.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

نَفْسٌ شَيْئًا

اِنْ شَاءَ اللَّهُ

اَنْشَرَهُ

1

 

 

رَسُوْلاً شَهِيْدًا

مِنْ شِيْعَتِهِ

أَنْشَأَكُمْ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Syin (ش) apabila di dahului Mim mati (مْ), maka dibaca terang atau jelas tanpa dengung (اِضْهَارْ شَفَوِى).

 

 

Contoh:

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا                     يَمْشُوْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 


 



ي (اَليَاءُ)

 

1.       

Makhraj huruf ya(ي)  yaitu :(وَسَطُ الْلِسَانِ) tengah lidah naik ke langit-langit, namun tidak sampai tertutup sempurna bersama pangkal lidah yang menurun.

 

2.                   

Sifat huruf ya (ي) yaitu:

 

 

لِيْنُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Lin

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

يَ يِ يُ بَيْ يُوْيَنْ يَنِيَيْنَ من المُيْنِ مَيِيْيًا يَنِيًا

 

 

شَرَيَ

يَشَعَ

يَتَمَ

 

بَيِّنَ

رَضِيٍ

مَعَايِشَ

 

لاَيُسْمِنُ

يُحْسِنُوْنَ

يُوَسْوِسُ

 

 

 

3.                    

Ya (ي) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذغام بغنة) dibaca dengung, dengan syarat Nun ((نْ dan ya (ي) tidak boleh bertemu dalam satu kalimat.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

يَوْمٍ يُبْعَثُ

مَنْ يُطِيْعِ اللَّهُ

-

1

 

 

فِئَةٌ يَنْصَرُوْنَهُ

مَنْ يَقُوْلُ

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِيْهِ بِغُنَّةٍ بِيَنْمُوْ عُلِمَا

#

لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا

 

 

 

 

 

 

4.                    

Ya (ي) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَاَنْذِرْهُم يَوْمَ الْاَزِفَةِ             عُمْيٌ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 



ل (لامُ)

 

1.       

Makhraj huruf Lam(ل)  yaitu :(حَفَةُ الْلِسَانِ) ujung dua tepi lidah sampai pangkal lidah menempel pada gusi dari gigi bagian atas.

 

2.                   

Sifat huruf Lam(ل)  yaitu:

 

 

الاِنْحِرَافُ

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلتَّوَسُّطُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Inhirafu

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Tawassutu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

لَ لِ لُ بَلْ لُوْلَنْ لَنِلَلْنَ من المُلْنِ مَلِيْلًا لَنِلًا

 

 

جَعَلَ

عَلَقَ

لَمَحَ

 

بِنَحْلٍ

وَرَجِلِكَ

وَاَجْلِبْ

 

قُلُوْبِهِمْ

يَعْمَلُوْنَ

لاَ يَزَالُ

 

 

 

3.                   

Lam(ل)  apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذغام بلاغنة) dibaca idgham tanpa dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

مَالاً لُبَدَا

مِنْ لَدُنْهُ

-

1

 

 

قَوْلاً لَيِّنًا

 اَنْ لَنْ تَقُوْلَ

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِى الْلَامِ وَالرَّا ثُمَّ كَرِّرَنَةْ

#

وَالثَّانِيْ اذْغَامٌ بِغَيْرِ غُنَّةٍ

 

 

 

 

 

 

4.                   

Lam(ل)  apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَاَمْلَى لَهُمْ             كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُوْنٌ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ض (اَلضاد)

 

1.       

Makhraj huruf Dhad (ض)  yaitu :(حَفَةُ الْلِسَانِ) salah satu tepi lidah atau keduanya menempel pada bagian dalam gigi graham atas.

 

2.                   

Sifat huruf Dhad (ض)  yaitu:

 

 

اَلْاِسْتِطَالَةُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِطْبَاقُ

اَلْاِسْتِعْلَاءُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Istithalah

Al Ishmatu

Al

Ithbaqu

Al

 Isti’la’u

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

ضَ ضِ ضُ بَضْ ضُوْضَنْ ضَنِضَضْنَ من المُضْنِ مَضِيْضًا ضَنِضًا

 

 

حَفَضَ

ضَعَفَ

وَضَعَ

 

مُعْرِضِيْنَ

رَضِيٍ

غَضِبٌ

 

بَعْضُهُمْ

وَيَقْبِضُوْنَ

عَضُدًا

 

 

 

3.                   

Dhad (ض)  apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

قَوْمًا ضَالِيْنَ

مِنْ ضَرِيْعٍ

مَنْضُوْدٍ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Dhad (ض)  apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَامْضُوْا              اِذَارَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْا

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ن (اَلنون)

 

1.       

Makhraj huruf Nun (ن)  yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah menempel pada gusi gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Nun (ن)  yaitu:

 

 

اَلْغُنَّةُ

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلتَّوَسُّطْ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Ghunnatu

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Tawasutu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

نَ نِ نُ بَنْ نُوْنَنْ نَنِنَنْنَ من المُنْنِ مَنِيْنًا نَنِنًا

 

 

مَيْمَنَةٌ

فَهَدَيْنَهُ

نَصَرَ

 

مُذْنِبِيْنَ

نِعْمَةٌ

قَنِتَةٌ

 

اَيْمَانُهُمْ

لَكُم دِيْنُكُم

مَمْنُوْعَا

 

 

 

3.                    

Nun (ن) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذْغَامْ بِغُنَّةٍ) dibaca dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

اَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ

لَنْ نَدْخُلَهَا

 

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِيْهِ بِغُنَّةٍ بِيَنْمُوْ عُلِمَا

#

لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا

 

 

 

 

 

 

4.                    

Nun (ن)  apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

يُمْنَى                  وَهُمْ نَائِمُوْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ر (اَلراء)

 

1.       

Makhraj huruf Ra (ر)  yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah menempel pada gusi dua gigi seri atas sedikit lebih masuk ke punggung lidah dari makhraj nun.

 

2.                   

Sifat huruf Ra (ر)  yaitu:

 

 

اَلتَكْرِيْرُ

اَلْاِنْحِرَافُ

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلتَّوَسُّطْ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Takrir

Al

Inhirafu

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Tawasutu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

رَ رِ رُ بَرْ رُوْرَنْ رَنِرَرْنَ مِنَ المُرْنِ مَرِيْرًا رَنِرًا

 

 

كِرَامٍ

رَسُوْلٌ

نَصَرَ

 

وُيُخْرِجْ

مِنْ غَيْرِ

وَنَمَارِقُ

 

رُعْبًا

يَشْعُرُوْنَ

اَمْرُهُ

 

 

 

3.                    

Ra (ر) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذْغَامْ بِلاَغُنَّةٍ) dibaca lebur tanpa dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

فِيْ عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ

مِنْ رَبِّهِمْ

-

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِى الْلَامِ وَالرَّا ثُمَّ كَرِّرَنَةْ

#

وَالثَّانِيْ اذْغَامٌ بِغَيْرِ غُنَّةٍ

 

 

 

 

 

 

4.                    

Ra (ر) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَاَمْرُهُ                 وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 



ط (اَلطاء)

 

1.       

Makhraj huruf Tha (ط)  yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada pangkal dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Tha (ط)  yaitu:

 

 

اَلْقَلْقَلَةُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِطْبَاقُ

الاِسْتِعْلَاءُ

اَلشّدَّةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Qalqalatu

Al Ishmatu

Al

Ithbaqu

Al

 Isti’la’u

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

طَ طِ طُ بَطْ طُوْطَنْ طَنِطَطْنَ من المُطْنِ مَطِيْطًا طَنِطًا

 

 

طَيْرًا

طَهُوْرًا

طَعَامًا

 

خَاطِئَةٍ

مُمْطِرُنَا

لَطِيْفًا

 

فِيْ طُغْيَانِهِمْ

لَيَطْغَى

اَطْعَمَهُمْ

 

 

 

3.                   

Tha (ط)  apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اعلى) dibaca samar disertai sedikit dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

شَرَابًا طَهُوْرًا

مِنْ طِيْنٍ

يَنْطِقُوْنَ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Tha (ط)  apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

اُكُلٍ خَمْطٍ             فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



د (اَلدال)

 

1.       

Makhraj huruf Dal (د) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada pangkal dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Dal (د) yaitu:

 

 

اَلْقَلْقَلَةُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلشّدَّةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Qalqalatu

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

دَ دِ دُ بَدْ دُوْدَنْ دَنِدَدْنَ من المُدْنِ مَدِيْدًا دَنِدًا

 

 

تَزْدَرِيْ

وَعَدَّدَهُ

وَعَدَ

 

يَوْمِ الدِّيْنِ

مُزْدَجَرٌ

قَدْ نَرَى

 

الدُنْيَا

وَمَهَّدْتُ

بِالْعَدْلِ

 

 

 

3.                   

Dal (د) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اعلى) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ

مِنْ دُوْنِهِ

اَنْدَادَ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Dal (د) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

لَكُمْ دِنُكُمْ               وَاَمْدَدْنَكُم

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ت (اَلتاء)

 

1.       

Makhraj huruf Ta (ت) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada pangkal dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Ta (ت) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلشّدَّةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

تَ تِ تُ بَتْ تُوْتَنْ تَنِتَتْنَ من المُتْنِ مَتِيْتًا تَنِتًا

 

 

يَنْحِتُوْنَ

فَأْتِ بِهَا

تَصُدُّوْنَ

 

فِتْنَةٌ

تَبَّتْ

بُعْثِرَتْ

 

اِخْتَلَطَ

تَتَوَفَّهُمْ

اَلتَئِبُوْنَ

 

 

 

3.                   

Ta (ت) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اعلى) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

جَنَّةٍ تَجْرِيْ

مِنْ تَحْتِهَا

مُنْتَهَى

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Ta (ت) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ                  اَمْ كُنْتُمْ تَجْهَلُوْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ظ (اَلظاء)

 

1.       

Makhraj huruf Dzha (ظ) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada ujung dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Dzha (ظ) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِطْبَاقُ

الاستعلاء

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Ithbaqu

Al

 Isti’la’u

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

ظَ ظِ ظُ بَظْ ظُوْظَنْ ظَنِظَظْنَ من المُظْنِ مَظِيْظًا ظَنِظًا

 

 

يُعَظُوْنَ

حَفِظُوا

اَوَعَظْتَ

 

اَظْلَمَ

لَظُلْمٌ

يَعَضُّ الظَّالِمُ

 

عَظِيْمٌ

ظَلِيْلاً

ظِلٍّ

 

 

 

3.                   

Dzha (ظ) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

قُرًى ظَهِيْرًا

مَنْ ظُلِمْ

فَانْظُرْ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Dzha (ظ) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَاَنْتُمْ ظَلِمُوْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ذ (اَلذال)

 

1.       

Makhraj huruf Dzal (ذ) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada ujung dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Dzal (ذ) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاستفل

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

ذَ ذِ ذُ بَذْ ذُوْذَنْ ذَنِذَذْنَ من المُذْنِ مَذِيْذًا ذَنِذًا

 

 

اَعُوْذُ

عَذَابٌ

ذَهَبَ

 

ذِيْ قُوَّةٍ

لَايَذُقُوْنَ

تَذْهَبُوْنَ

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Dzal (ذ) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

سِرَاعًا ذَالِكَ

مَنْ ذَاالَّذِيْ

مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Dzal (ذ) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ث (اَلثاء)

 

1.       

Makhraj huruf Tsa (ث) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah dari arah punggungnya menempel pada ujung dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Tsa (ث) yaitu:

 

 

 

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

اَلْاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

ثَ ثِ ثُ بَثْ ثُوْثَنْ ثَنِثَثْنَ من المُثْنِ مَثِيْثًا ثَنِثًا

 

 

ثِيَابَهُمْ

اَلْمَبْثُوْثِ

مَثْنَى

 

ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

وَثَامِنُهُمْ

ثَالِثٌ

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Tsa (ث) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

مُطَاعٍ ثَمَّ

مَنْ ثَقُلَتْ

مَنْثُوْرًا

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Tsa (ث) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

فِيْ دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ      اَمْثَلُكُمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 


 



ص (اَلصاد)

 

1.       

Makhraj huruf Shad (ص) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah paling depan menempel pada dinding dua gigi seri bawah sehingga keluarga di antara gigi seri atas dan bawah.

 

2.                   

Sifat huruf Shad (ص) yaitu:

 

 

اَلصَّفِيْرُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِطْبَاقُ

الاستعلاء

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

Al

Shafiru

Al Ishmatu

Al

Ithbaqu

Al

 Isti’la’u

Al

Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

صَ صِ صُ بَصْ صُوْصَنْ صَنِصَصْنَ من المُصْنِ مَصِيْصًا صَنِصًا

 

 

صُحُفًا

يَخْتَصِمُوْنَ

صَبْرًا

 

وَكَيْفَ تَصْبِرُ

اِصْطًفَى

اِصْبِرُوْا

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Shad (ص) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

رِيْحًا صَرْصَرًا

مِنْ صَلْصَلٍ

يَنْصُرُكُمْ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Shad (ص) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

اِنْ كُنْتُمْ صَدِقِيْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 



س (اَلسين)

 

1.       

Makhraj huruf Sin (س) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah paling depan menempel pada dinding dua gigi seri bawah sehingga keluarga di antara gigi seri atas dan bawah.

 

2.                   

Sifat huruf Sin (س) yaitu:

 

 

اَلصَّفِيْرُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

Al

Shafiru

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

سَ سِ سُ بسْ سُوْسَنْ سَنِسَسْنَ مِنَ الْمُسْنِ مَسِيْسًا سَنِسًا

 

 

سُبَاتًا

قِسِّيْسِيْنَ

سَبِيْلًا

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Sin (س) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

عَبِدَاتٍ سَائِحَاتٍ

مِنْ سُلَلَةٍ

مَانَنْسَخْ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Sin (س) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

نَوْمَكُمْ سُبَتًا           هَمْسًا

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 



ز (اَلزاي)

 

1.       

Makhraj huruf Zai (ز) yaitu :(طَرَفُ الْلِسَانِ) ujung lidah paling depan menempel pada dinding dua gigi seri bawah sehingga keluarga di antara gigi seri atas dan bawah.

 

2.                   

Sifat huruf Zai (ز) yaitu:

 

 

اَلصَّفِيْرُ

اَلْاِصْمَاتُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

Al

Shafiru

Al Ishmatu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

زَ زِ زُ بزْ زُوْزَنْ زَنِزَزْنَ مِنَ الْمُزْنِ مَزِيْزًا زَنِزًا

 

 

زُخْرُفًا

اَنْ اَزِيْدَ

وَبُرِّزَتْ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Zai (ز) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

صَعِيْدًا زَلَقًا

مَنْ زَكَّهَا

اَنْزَلْنَهُ

1

 

 

-

-

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Zai (ز) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

رَمْزًا      اَيُّكُمْ زَدَتْهُ

 

 

Dalilnya:

 

 

مِنْ اَحْرُوْفٍ وَسَمَّهَا الشَّفَوِيَّةِ

#

وَالثَّلِثُ الْإِضْهَارُ فِي الْبَقِيَّةِ

 

 

 

 

 



ف (اَلفاء)

 

1.       

Makhraj huruf fa (ف) yaitu :(اَلشَّفَتَانِ) keluar dari bagian dalam (perut) bibir bawah dengan ujung dua gigi seri atas.

 

2.                   

Sifat huruf Fa (ف) yaitu:

 

 

 

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْهَمْسُ

 

 

 

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Hamsu

 

 

Latihan:

 

 

 

فَ فِ فُ بفْ فُوْفَنْ فَنِفَفْنَ مِنَ الْمُفْنِ مَفِيْفًا فَنِفًا

 

 

وَفُتِحَتْ

فِرْعَوْنَ

فَافْعَلُوْا

 

اَنْفِقُوْا

يَفْعَلُ

مُفْتَرِيْنَ

 

ضُعَفَاءُ

مَعْرُوْفٌ

فَمَثَلُهُ

 

 

 

3.                   

Fa (ف) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اخفاء اوسط) dibaca samar disertai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

مِصْرًا فَاِنَّ

مِنْ فِئَةٍ

مُنْفَكِّيْنَ

1

 

 

تُرَابٌ فَاَصَابَهُ

وَمَنْ فَرَضَ

يُنْفِقُ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِيْ تُقَى ضَعْ ظَالِمَا

#

صِفْ ذَاثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَى

 

 

 

 

 

 

4.                   

Fa (ف) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى اشد) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

            اَوْاَكْنَنْتُمْ فِيْ اَنْفُسِكُمْ

 

 

Dalilnya:

 

 

سِوَاهُمَا تُسَمَّى اِظْهَارٌ فَقَطْ

#

لَكِنَّهَا عِنْدَ الْفَا وَالْوَاوِ اَشَدْ

 

 

 

 

 


 



ب (اَلباء)

 

1.       

Makhraj huruf Ba (ب) yaitu :(اَلشَّفَتَانِ) keluar dari paduan dua bibir dalam keadaan tertutup.

 

2.                   

Sifat huruf Ba (ب) yaitu:

 

 

 

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلشِّدَّةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Syiddatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

بَ بِ بُ ببْ بُوْبَنْ بَنِبَبْنَ مِنَ الْمُبْنِ مَبِيْبًا بَنِبًا

 

 

بُهْتَانٌ

بِبَابِلَ

وَبَنِيْنَ

 

سَبْعَةٌ

اَلْمَبْثُوْثِ

اُبْلِسُوْا

 

 

 

 

 

 

 

3.                   

Ba (ب) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اقلاب) dibaca dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ

مَنْ بَخِلَ

اِذِانْبَعَثَ

1

 

 

سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

مِنْ بَعْدِهِمْ

اَنْبِئُوْنِيْ

2

 

 

Dalilnya:

 

 

مِيْمًا بِغُنَّةٍ مَعَ الْاِخْفَاءِ

#

وَالثّالِثُ الْاِقْلَابُ عِنْدَ الْبَاءِ

 

 

 

 

 

 

4.                   

Ba (ب) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اخفاء شفوى) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

            تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ      وَمَاهُمْ بِخَارِجِيْنَ     عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

وسمه الشفوي للقراء

#

فالاول الاخفاء عند الباء

 

 

 

 

 


 



م (اَلميم)

 

1.       

Makhraj huruf Mim (م) yaitu :(اَلشَّفَتَانِ) keluar dari paduan dua bibir dalam keadaan tertutup disertai dengung.

 

2.                   

Sifat huruf Mim (م) yaitu:

 

 

 

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلتَّوَسُّطْ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Tawasutu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

مَ مِ مُ بَمْ مُوْمَمْ مَنِمَمْنَ مِنَ الْمُمْنِ مَمِيْمًا مَنِمًا

 

 

بِمُؤْمِنِيْنَ

مِثْلُكُمْ

مَالَهَا

 

هُمْ فِيْهَا

يَمْكُرُوْا

اِمْلَاقٍ

 

وَعِدْهُمْ وَمَا

يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ

وَيَمُدُّهُمْ فِى

 

 

 

3.                   

Mim (م) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذغام بغنة) dibacai dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

يَتْلُوْا صُحُفًا مُطَهَّرَةً

مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

مِنْ مَالٍ

1

 

 

 

 

 

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِيْهِ بِغُنَّةٍ بِيَنْمُوْ عُلِمَا

#

لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا

 

 

 

 

 

 

4.                   

Mim (م) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اذغام متمثلين) atau dibaca idgham disertai dengung.

 

 

Contoh:

وَهُمْ مِنَ     اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

 

 

Dalilnya:

 

 

وَسَمِّ اِدْغَامًا صَغِيْرًا يَا فَتىَ

#

وَالثّانِي اِدْغَامٌ بِمِثْلِهَا أَتىَ

 

 

 

 

 


 



و (اَلواو)

 

1.       

Makhraj huruf Wau (و) yaitu :(اَلشَّفَتَانِ) keluar dari dua bibir dengan memoncongkannya sehingga ada celah untuk mengalirkan suara.

 

2.                   

Sifat huruf Wau (و) yaitu:

 

 

 

اَلْاِذْلَقُ

اَلْاِنْفِتَاحُ

الاِسْتِفَالُ

اَلرَّخَاوَةُ

اَلْجَهْرُ

 

 

 

Al Idzlaqu

Al

Infitahu

Al

 Istifalu

Al

Rakhawatu

Al

Jahru

 

 

Latihan:

 

 

 

وَ وِ وُ بَوْوُوْوَنْ وَنِوَوْنَ مِنَ الْمُوْنِ مَوِيْوًا وَنِوًا

 

 

وَوُفِّيَتْ

وِفَاقًا

وَبِيْلاً

 

تَفُوْتٍ

وُجُوْهٌ

فَوْقَهُمْ

 

ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْا

وَاُفَوِّضُ

وَقَاتِلُوْا وَقُتِلُوْا

 

 

 

3.                   

Wau (و) apabila di dahului Nun Mati atau Tanwin (نْ/ ً ٍ ٌ) hukumnya adalah (اذغام بغنة) dibaca dengung.

 

 

Contoh:

 

 

مثاله مع التنوين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمتين

مثاله مع النون الساكنة فى كلمة

الرقم

 

 

سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

مِنْ وَلِيٍّ

-

1

 

 

وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ

مِنْ وَالٍ

-

2

 

 

Dalilnya:

 

 

فِيْهِ بِغُنَّةٍ بِيَنْمُوْ عُلِمَا

#

لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا

 

 

 

 

 

 

4.                   

Wau (و) apabila di dahului Mim mati (مْ), hukumnya (اضهار شفوى اشد) atau dibaca jelas tanpa dengung.

 

 

Contoh:

            بِأَمْوَلِكُمْ   مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى

 

 

Dalilnya:

 

 

سِوَاهُمَا تُسَمَّى اِظْهَارٌ فَقَطْ

#

لَكِنَّهَا عِنْدَ الْفَا وَالْوَاوِ اَشَدْ

 

 

 

 

 


 



لفظ الجلالة

LAFADZ ALLAH

 

 

Hukum lafadz Allah ada dua yaitu;

1.      Tafkhim           2. Tarqiq

 

 

Keterangan:

 

1.       

Tafkhim menurut bahasa adalah penebalan. Adapun menurut istilah adalah: ( عبارة عن سمن يدخل على صوت الحرف عند النطق به فيمتلئ الفم بصداه )

“sebuah ungkapan tentang (sifat) tebal yang masuk pada suara huruf ketika mengucapkannya sehingga memenuhi mulut dengan gemanya.”

 

 

Mengenai lafadz jalalah bisa dibaca tebal apabila didahului huruf berharkat fathah atau dhommah.

 

 

Contoh:

 

 

 

ان الله مع الصبرين

 

 

هوالله

الى الله

مَعَ الله

 

فتح الله

عبد الله

نصرالله

 

 

 

 

 

 

 

2.       

Tarqiq menurut bahasa adalah penipisan. Adapun menurut istilah adalah: ( عبارة عن نحول يدخل على صوت الحرف عند النطق به فلايمتلئ الفم بصداه )

“sebuah ungkapan tentang (sifat) tipis yang masuk pada suara huruf ketika mengucapkannya sehingga tidak memenuhi mulut dengan gemanya.”

Lafadz jalalah bisa dibaca tipis manakala didahului oleh huruf yang berharkat kasroh.

 

 

Contoh:

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

 

لكن الله

من دون الله

في سبيل الله

1

 

 

من فضل الله

مِنْ عند الله

باذن الله

2

 

 

Dalilnya:

 

 

ترقيق تفخيم على البيان

#

لفظ الجلالة له حكمان

 

 

لا بعد كسر نحو عبد الله عم

#

والله فخم بعد فتحة وضم

 

 

 

 

 

 

 

 

حكم الراء

Hukum Ra

1.      Tafkhim (tebal)

2.      Tarqiq (tipis)

3.      Jawas (boleh tebal dan tipis)

1.       Ra dibaca Tafkhim (tebal) apabila:

a.       Ra berharkat fathah atau tanwin fathah seperti:

رَبَّنَا     ذكرا    كثيرا

b.      Ra berharkat dhammah atau tanwin dhammah seperti:

صابرون    غفور

c.       Ra Sukun yang didahului fathah atau dhammah seperti:

يرجعون    ان اشكر لله

d.      Ra sukun yang didahului kasrah ‘aridhy atau hamzah washol seperti:

اِرجعي    ام ارتابوا

e.      Ra sukun yang didahului kasrah asli dan diikuti huruf isti’la’, tetapi dengan syarat bertemu dalam satu kalimat seperti:

مرصاد    قرطاس    فرقة

f.        Ra hidup didahului huruf berharkat sukun selain Ya’ yang sebelumnya ada huruf berharkat fathah atau dhammah dan dibaca waqaf seperti:

شهر   الفجر

g.       Ra hidup yang didahului alif atau wawu dan dibaca waqof, kecuali dibaca imalah seperti:

من تحتها الانهار     ترجع الامور

Dalil Ra Tafkhim sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Ra dibaca Tarqiq (tipis) apabila:

a.       Ra kasrah atau tanwin kasrah seperti:

سأريكم      لفي خسر الا

b.      Ra sukun yang didahului kasrah seperti:

فرعون     فكبر

c.       Ra hidup yang didahului ya’ sukun baik mad atau lin dan dibaca waqaf seperti:

 خبير   بصير   خير

d.      Ra hidup yang didahului huruf sukun dan sebelumnya ada harkat kasrah dan dibaca waqof seperti:

 بكر

e.       Ra sukun yang didahului kasrah dan bertemu huruf isti’la’ di lain kalimat seperti:

اصبر صبرا    ولا تصعر خدك

3.      Ra dibaca Jawaz (boleh tebal atau tipis)

a.       Ra sukun didahului kasrah dan bertemu huruf isti’la’ yang berharkat kasrah dalam satu kalimat seperti:

فرقٍ

b.      Ra kasrah dibaca waqof sebelumnya ada dhammah atau sukun seperti:

اذا يسر   ونذر

c.       Ra fathah atau kasrah dibaca waqof sebelumnya ada huruf isti’la’ seperti:

ومصر    الفطر